Tampilkan postingan dengan label Ibu dan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu dan Anak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Desember 2016

Published 15.29.00 by Admin

Bayi Baru Lahir ! Perkembangan Bayi 1 Bulan dan Permasalahannya

Bayi Baru Lahir  - Perkembangan Bayi Baru Lahir


Perkembangan Bayi Baru Lahir
Image courtesy of khunaspix at FreeDigitalPhotos.net

Amati Beberapa Hal Berikut yang Berkaitan dengan Pertumbuhan Bayi Baru Lahir, khususnya perkembangan dan pertumbuhan bayi usia 1 bulan.

 

1. Berat badan bayi baru lahir akan turun dalam beberapa hari pertama (biasanya 5 hari) dan akan kembali ke berat lahir pada usia 7–10 hari.

Hal ini disebabkan berat lahir sesungguhnya mencakup kelebihan cairan tubuh, yang akan dihilangkan perlahan­-lahan dalam beberapa hari berikutnya. Percepatan berat kemudian terjadi lagi pada usia 3 – 6 minggu. 

Rata-­rata berat bayi naik 20–30 gram per hari sehingga pada usia satu bulan beratnya mencapai 4,5 kg. Tinggi badannya juga bertambah 4,5–5 cm dalam bulan ini. Pola pertumbuhan ini bersifat individual antar bayi dan dipengaruhi oleh faktor nutrisi dan genetik (keturunan).

 

2. Lingkar kepala bertambah dari sekitar 35 cm menjadi 38 cm dalam satu bulan dan menggambarkan pertumbuhan otak.

Bayi yang lahir normal kadang mempunyai bentuk tempurung kepala yang tidak simetris, atau kadang disertai lebam/jejas akibat vakum/forseps, dan akan menghilang sendiri dalam satu sampai dua minggu. Perlahan-­lahan, rambut di kepala akan rontok sampai kadang sebagian tampak botak, tetapi akan digantikan dengan rambut yang baru.

 

3. Postur tubuh bayi akan berubah bertahap dari posisi meringkuk seperti saat berada didalam kandungan, menjadi tegak perlahan-­lahan. 

Bayi juga kadang merenggangkan tubuhnya sampai melengkungkan punggungnya. Kedua tungkai akan terlihat semakin tegak, tetapi akan memunculkan posisi bengkok karena berputar ke dalam. Keadaan ini akan menghilang sendiri saat berusia 1–2 tahun.

 

4. Saat berusia 4–5 minggu, wajah bayi akan ditumbuhi oleh bisul-­bisul kecil ataupun Jerawat

Umumnya hal ini disebabkan oleh rangsangan terhadap kelenjar minyak di kulit oleh hormon dapat diperberat oleh iritan yang mengenai kulit bayi, seperti pakaian bayi yang dicuci dengan menggunakan produk deterjen bisa juga disebabkan oleh alergi terhadap penggunaan kosmetik bayi.

 

5. Telapak tangan dan kaki bayi adalah bagian tubuh yang mudah teraba lebih dingin dibandingkan bagian tubuh lainnya 

Hal ini terjadi karena pembuluh darah yang mudah mengerut di daerah ini akibat respons terhadap suhu lingkungan. Kadang telapak tangan/kaki dan kuku terlihat biru saat udara dingin dan kembali menjadi merah dengan segera saatdiselimuti/dihangatkan.

 

6. Termostat tubuh yang mengatur suhu naik (demam) atau membuat tubuh menggigil kedinginan belum bekerja baik saat usia awal kehidupan. 

Jaringan lemak bayi juga cenderung berkurang dalam satu sampai dua bulan pertama sehingga orangtua harus mengetahui cara mengenakan pakaian bayinya secara tepat. Pakaikan pakaian hangat saat udara dingin dan kenakan cukup pakaian yang tipis saat udara panas.

 

7. Tali pusat (pusar) akan puput dalam 10 hari – 3 minggu dan meninggalkan bekas kehitaman tanpa luka/cairan merembes. 

Lakukan perawatan tali pusat (sebelum puput) secara kering dan bersih (gunakan kapas yang dibasahi alkohol untuk mengusapnya). Jika tali pusat yang sudah puput tidak mengering dan masih luka setelah dua minggu, segera konsultasikan ke dokter.

 

Cara Merawat Tali Pusat / Tali Pusar

Sebenarnya, prinsip perawatan tali pusat bayi baru lahir cukup sederhana: jaga agar tetap kering dan bersih. Umumnya, sebelum tali pusat puput, bayi tidak dimandikan dengan cara berendam di bak mandi, tetapi dengan dibersihkan dengan waslap. Lagi pula, kulit bayi baru lahir masih cukup tipis dan tidak mudah berkeringat sehingga tidak harus dimandikan setiap hari.

Daerah tali pusat dan sekitarnya juga dijaga agar tidakterkena kain popok dan air sendi/tinja. Perawatan ini boleh ditambahkan dengan mengusap kapas alkohol pada ujung tali pusat dan membiarkannya kering sendiri, lalu membungkusnya dengan kassa kering.

Namun, pusat akan puput selambat-­lambatnya saat bayi berusia delapan minggu. Saat puput, kadang-kadang darah segar masih akan keluar sedikit-­sedikit dan ini adalah kondisi yang wajar.

# Info Singkat

1. Perlukah Bayi Dibedong ?

Bedong atau swaddling boleh dilakukan untuk membuat bayi lebih nyaman, aman, tidak mudah terbangun (tidur lebih nyenyak), dan hangat. Pastikan saat membedong, bayi tidak terikat terlalu erat sehingga masih mampu menggerakkan lengan dan tungkainya. Seiring dengan pertambahan usia, bayi akan mudah lolos dari bedongnya karena tidak betah berlama­lama dengan bedongnya. Inilah saat bayi tidak perlu dibedong lagi.
2. Benarkah Penggunaan Gurita dapat Menjaga Bentuk Tubuh Bayi dan Mencegah “Masuk Angin” ?

Penggunaan gurita tidak dianjurkan lagi, karena cenderung menghalangi gerakan dinding dada saat bernapas sehingga bayi akan kesulitan bernapas. Tanpa menggunakan gurita pun, bayi dengan berat lahir normal akan mampu menjaga suhu tubuhnya tetap hangat dan bentuk tubuh di kemudian hari tetap normal.
3. Jangan Berikan Bedak Tabur, Minyak Telon, dan Kosmetik Apa Pun pada Kulit Bayi.

Bayi terlahir dengan kulit yang masih tipis dan cenderung sensitif. Penggunaan kosmetik berpotensi menimbulkan reaksi alergi kulit pada bayi yang rentan. Bedak tabur dapat menghalangi penguapan keringat, apalagi jika dipakaikan di daerah lipatan (paha, leher, dan ketiak).
Read More
      edit
Published 14.32.00 by Admin

Bayi Baru Lahir ? Cara Melatih Penglihatan, Pendengaran dan Perabaan Bayi

Mengenal Panca Indra Pada Bayi Anda Dan Cara Melatihnya


Bayi baru lahir panca indranya termasuk penglihatan dan pendengaran belum dapat bekerja secara normal, makanya saat baru lahir bayi tidak akan dapat melihat jelas seperti orang dewasa pada umumnya tetapi mereka dapat mengenali sosok yang ada di hadapannya.


Penglihatan Bayi


  • Saat baru lahir, bayi tidak dapat melihat sejelas orang dewasa, tetapi mereka dapat mengenali sosok yang ada di hadapannya.
  • Saat berusia satu bulan, bayi dapat mengenali wajah, ben tuk benda, dan warna-­warni. Jarak pandangnya sekitar 20-30 cm.
  • Saat berusia 3–4 bulan, kebanyakan bayi dapat mem fokuskan pandangan pada benda yang berukuran kecil dan membedakan warna (khususnya merah dan hijau).
  • Saat berusia 4 bulan, koordinasi gerak kedua bola mata sudah cukup baiksehingga bayi mengenali bentukdengan sangat baik (pandangan binokular).
  • Saat berusia 12 bulan, kemampuan penglihatan bayi sama dengan orang dewasa.


Kemampuan penciuman dan Perabaan

  • Dalam usia satu minggu, bayi mengenali bau dari payudara ibunya sendiri serta sudah dapat menoleh menghampirinya, selain itu bayi juga mmapu mengenali bau payudara ibu lain (jika didekatkan kepadanya) sehingga menolak mendekatinya.
  • Bayi menyukai bau wangi dan lembut, dan menghindari bau yang tajam dan menyengat.
  • Bayi baru lahir sensitif terhadap sentuhan yang berasal dari orang lain, termasuk bagaiamana dia disentuh. Bayi yang dielus-elus dengan dengan kasih sayang dan kelembutan, diangkat lalu gendong dengan perlahan, maka bayi merasa nyaman, dibandingkan dengan mencoba mengangkat secara kasar maka Bayi akan merasa tidak nyamana dan menangis. Bayi juga menyukai permukaan yang halus dan empuk seperti kain flanel atau satin, dibandingkan dengan per mukaan kasar seperti tikar anyaman.
  • Ingat, dengan perabaan dan sentuhan halus saat menggendong, menimang-­nimang, dan mengayun­-ayun tubuh bayi akan mampu membuatnya berhenti menangis. Apa artinya ? Bahkan jauh sebelum bayi mampu memahami bahasa lisan dari orangtuanya, mereka telah mampu mengetahui jalan isi pikiran dan perasaan orangtuanya dari cara menyentuh.


Sampai berusia satu bulan, bayi akan mampu melakukan gerakan ­gerakan berikut.

  • Menekuk lengan dengan berporos pada sendi siku.
  • Kedua tangan digerakkan di sekitarjangkauan pandangan mata dan mulut.
  • Menelengkan kepala ke kiri dan kanan jika ditengkurapkan.
  • Jika badan diangkat dan kepala tidak ditopang, maka kepala akan tertekuk jatuh ke belakang.
  • Kedua telapak tangan mengatup rapat.
  • Gerakan refleks cukup dominan (misalnya: refleks menggenggam tangan saat menyentuhkan benda ke dalam genggaman, refleks mengikuti gerakan benda yang menempel ke pipi bayi, dan refleks Moro yaitu saat terkejut bayi melebarkan lengannya, lalu menekuknya lagi sambil ke palanya tertekuk ke belakang).

 

Melatih Pancaindra ( Penglihatan, Pendengaran dan Perabaan) Bayi 

Bagaimana melatih pancaindra bayi, berikut langkah sederhana yang bisa Ibu lakukan

1. Gunakan wajah dan suara: alih-­alih memberikan mainan, wajah orangtua dengan berbagai ekspresi/ mimik, jauh lebih menarik bagi bayi. Sering­-seringlah mengajak bayi bicara, bernyanyi, dan tertawa. Bermainlah dengan usapan tangan, menggaruk, dan cilukba.

2. Tunjukkan ekspresi wajah, suara, dan gerakan yang dapat ditiru bayi. Lakukan pula di hadapan bayi apa yang bisa mereka lakukan. Ini adalah cara benar bagaimana berkomunikasi dengan bayi.

3. Bayi mempelajari hal baru dan mengulang­-ulangnya sampai bisa. Jangan bosan melakukan hal yang sama berulang-­ulang untuk mengajari bayi. Mulai dari menunjukkan bagaimana suatu benda bekerja, sampai bagaimana bereaksi dalam berbagai situasi.

4. Salah satu cara terbaik belajar bicara adalah dengan membacakan buku atau bercerita di hadapan bayi. Biasakan membaca bersama bayi setiap hari. Kebiasaan ini akan memotivasi bayi untuk selalu belajar hal baru.

Tidak ada bayi yang sama. Ada yang tampak antusias saat diajarkan hal baru, ada yang biasa-­biasa saja. Ada yang mudah menangis kencang, ada yang lebih ramah dan kalem. Anda adalah orang yang paling mengetahui pendekatan terbaik dalam mendidik bayi Anda.

Anda pun harus senantiasa sehat dan bahagia agar dapat memberikan waktunya yang terbaik dalam mendidik bayi Anda. Bayi akan merasa aman bersama orangtua yang bahagia. Jika lelah, Anda harus beristirahat cukup, agar bisa mengoptimalkan waktu saat berinteraksi dengan bayi Anda.

 

Read More
      edit
Published 12.56.00 by Admin

Bayi Baru Lahir - Normalkah Bayi saya ?

Bayi Baru Lahir - Permasalahan Umum Yang Sering Dijumpai Pada Bayi


Umumnya, perut bayi terlihat lebih buncit dibandingkan dengan anak yang lebih besar jika dibandingkan dengan proporsi dadanya, dan ini adalah kondisi yang normal.

NORMAL ATAU TIDAK, YA ?


 Permasalahan Umum Yang Sering Dijumpai Pada Bayi
Image courtesy of Serge Bertasius Photography at FreeDigitalPhotos.net

Berikut beberapa keadaan pada bayi yang sering kali dianggap abnormal, padahal sebenarnya normal, atau sebaliknya. Mari kita bedakan antara mitos dan fakta.

 

Perut Kembung

Umumnya, perut bayi terlihat lebih buncit dibandingkan dengan anak yang lebih besar jika dibandingkan dengan proporsi dadanya, dan ini adalah kondisi yang normal. Perut teraba lunak dan cenderung lebih berisi setelah menetek/ minum susu. Kondisi yang abnormal atau tidak biasa adalah jika perut buncit/kembung disertai dengan tidak adanya buang air besar (BAB) lebih dari dua hari atau kondisi lainnya seperti muntah berulang. 

Perut juga teraba lebih keras. Kondisi ini bisa jadi karena sesuatu yang ringan seperti konstipasi atau banyak udara, atau yang lebih serius seperti sumbatan di saluran cerna. Segera konsultasikan ke dokter.

 

Kebiruan pada Tangan dan Kaki 

Kadang-­kadang, warna kulit dan kuku tangan dan bayi terlihat lebih biru dibandingkan bagian tubuh yang lain. Kondisi ini umumnya normal terjadi akibat oleh paparan suhu dingin. Jika suhu di sekitarnya menghangat atau bayi diselimuti, maka warna kulit akan kembali merah seperti semula. Bayi yang menangis dengan kencang juga dapat memunculkan warna kebiruan pada bagian wajah dan bibirnya yang akan segera menghilang setelah ia diam. 

Kondisi ini juga merupakan sesuatu yang normal dan sering kali tidak ada hubungannya dengan penyakit jantung bawaan. Namun, apabila bayi mengalami kebiruan pada bibir serta bagian tubuh lainnya disertai dengan sesak napas dan kesulitan menyusu, maka bisa jadi tanda penyakit jantung bawaan yang harus segera dikonsultasikan lebih lanjut.

 

Batuk Sehabis Minum Susu/Menetek 

Batuk seperti ini dapat dialami saat bayi sangat bersema ngat minum atau aliran ASI yang deras tidak diimbangi de ngan kecepatan bayi menelan. Bayi yang baru mulai belajar menyusu juga kadang mengalami hal ini. Keadaan ini akan mulai berkurang pada bayi setelah beristirahat sejenak, lalu akan melanjutkan lagi minumnya. 

Kebiasaan ini lama-kelamaan akan menghilang seiring bertambahny usia bayi , karena bayi sudah mulai terbiasa dengan pola minumnya. Jika bayi mulai mengalami batuk yang tidak kunjung berhenti atau bahkan  lebih parah lagi bayi mengalami sesak napas, atau muntah berulang sesudahnya, maka coba untuk mulai berkonsultasi ke dokter.

 

Napas Berbunyi “Grok­Grok” 

Saat bayi sedang tidur, kadang saat terjaga, kadang pula saat minum ASI, terdengar bunyi “grok­grok”. Apakah ia terkena infeksi sehingga mengalami pilek ? Apakah ia memiliki alergi terhadap kandungan ASI sehingga napasnya berbunyi sebagai bentuk reaksi alergi ? Apa yang harus dilakukan untuk menghilangkan bunyi "grokgrok" ini ? 

Tahukah Anda, bunyi “grok­grok” pada bayi wajar terjadi, hal ini karena kemampuan bayi dalam menelan produksi ludah yang masih dalam tahap “belajar”. Seiring dengan berlanjutnya usia, maka ukuran saluran napas juga akan makin membesar dan kemampuan bayi dalam menelan ludah akan membaik.

Bayi juga termasuk nose­breather, yaitu cenderung bernapas melalui hidung, bukan mulut. Jika terdapat sedikit sumbatan seperti adanya ingus dan lendir, akan menyebabkan timbul nya bunyi. Terlepas dari kondisi ini, kebanyakan anak dengan napas yang kadang-­kadang berbunyi “grok­grok” tampak “tidak peduli/cuek” dengan kondisinya dan tidak tampak kesulitan bernapas (sesak) sama sekali. Maka tidak diperlukan penanganan khusus menghadapi keadaan ini. 

Pada beberapa kondisi seperti ingus yang mengering dan membuat gelisah bayi karena sulit bernapas, boleh saja diberikan tetes hidung yang berisi garam fisiologis (natrium klorida 0,9%).

 

Menangis Tanpa Henti 

Tidak semua tangisan bayi dapat diterjemahkan. Kadang, Anda merasa begitu yakin kalau bayi Anda telah kenyang minum ASI, popoknya tidak basah, tidak mengantuk,  dan tidak kedinginan, tetapi bayi Anda tetap saja menangis. Apakah bayi Anda mengalami kolik ? Ajak bayi Anda bermain dan bernyanyilah untuknya sambil digendong berjalan­-jalan.

Baca juga : Bayi Menangis Tanpa Henti, Kemungkinan Bayi Anda Mengalami Kolik, Bagaimana Mengatasinya ?

Jika bayi tetap menangis, coba perhatikan tubuhnya secara menyeluruh, apakah perutnya membuncit atau bayi muntah berulang, apakah ia sedang demam, atau pola tangisannya seolah mengalami nyeri. Jika bayi tidak berhenti menangis setelah berusaha ditenangkan maka kemungkinan bayi mengalami tanda-tanda yang berbahaya, segera konsultasikan ke dokter.


Read More
      edit
Published 06.43.00 by Admin

Tempat Tidur Bayi - Apakah Perlu Tempat Khusus Untuk Bayi ?

Perhatikan Hal Ini Saat Anda Tidur Bersama bayi


Kehadiran buah hati yang pertama tidak dipungkiri lagi akan menambah kebahagiaan keluarga kecil ayah dan bunda. Bersiaplah mendengarkan suara kecilnya, deraian tawa cerianya, dan tingkahnya yang menggemaskan dari hari ke hari. Perhatian ayah dan bunda pun akan tercurahkan kepada si bintang kecil, mulai dari perawatan sehari­-hari, perkembangan kemampuannya, dan pertumbuhan fisiknya.

 

Tidur Bersama Bayi

Tidur Bersama Bayi
Image courtesy of kdshutterman at FreeDigitalPhotos.net

Sangat dianjurkan untuk ibu yang menyusui agar tidur bersama bayinya, baik dalam satu tempat tidur atau pun dalam satu kamar. Ada banyak alasannya, antara lain agar ibu bisa dengan mudah dan cepat memberikan susu setiap kali bayi terbangun. 

Coba bayangkan bagaimana jika kamar bayinya terpisah ?
Selain itu berdasarkan hasil penelitian, ibu menyusui yang tidur bersama dengan bayinya, maka produksi ASInya akan menjadi lebih lancar, lebih lama menyusui, sehingga bayi akan lebih banyak mendapat ASI.

Akan tetapi bagi ibu yang terlalu lelah bekerja, tidak dianjurkan untuk tidur bersama bayinya. Karena kemungkinan saat beristirahat sehabis lelah bekerja, ibu menjadi tidak waspada dan tidak sadar di mana posisi bayi dan bayi bisa tergencet tubuh ibu. Begitu juga dengan ibu yang sedang sakit dan habis minum obat sehingga mengantuk, maupun ibu pengguna obat­-obatan, atau ibu yang alkoholik.

Jika ada anak yang lebih besar tidur bersama dengan ibu, lebih baik bayi tidak tidur bersama dalam satu tempat tidur karena dikhawatirkan anak yang lebih besar dapat mencederai bayi tanpa sengaja.

Saat Ibu tidur bersama bayi, coba rapatkanlah tempat tidur ke dinding. Jika menggabungkan dua buah kasur, pastikan tidak ada celah atau lubang yang terbuka di antara kedua kasur, sehingga bayi tidak akan tergelincir dan masuk ke dalam lubang atau celah.

Jika bayi tidur terpisah dengan orangtua, bisa menggunakan keranjang bayi (baby box) yang kecil. Jangan terlalu banyak mengisi keranjang bayi dengan mainan, boneka, maupun bantal. Karena jika boneka terjatuh menimpa muka bayi, maka akan mengganggu jalan pernapasannya dan membuatnya sesak napas.

 

Perlukah Bayi Menggunakan Tempat Tidur yang Terpisah ?

Sediakan tempat khusus untuk tidur bayi. Untuk bayi baru lahir bisa berupa keranjang bayi atau box bayi. Bila bayi tidur bersama ibunya, tempat tidur bayi ini dipakai pada saat ibu sedang ada kegiatan lain. 

Yang terpenting adalah tempat (atau kasur) yang datar, padat, dan jangan terlalu empuk karena bayi bisa melesak masuk ke dalam kasurnya. Pastikan juga tidak ada benda­-benda ditempat tidurnya selain bantal dan selimut, agar tidak menutupi saluran napas bayi saat sedang tidur, dan tidak ada celah yang membuat bayi terperangkap di dalamnya.

Pada Usia Berapa Bayi Bisa Tidur di Ruangan Terpisah Dengan Orangtua ? 

 

Tidur Bersama Bayi ? Apa Saja Yang Perlu Diperhatikan Sang Ibu
Image courtesy of phaendin at FreeDigitalPhotos.net

Bayi yang baru lahir perlu membina ikatan dengan orangtua nya, terutama dengan ibunya. Sehingga sampai usia 6 bulan pertama, sebaiknya bayi tidur bersama orangtuanya. Jika ingin tidur terpisah, bisa mulai dicoba saat bayi berusia 1–1,5 tahun

 

Perlukah Bantal Khusus Untuk Bayi ?

Sebenarnya penggunaan bantal tidak dianjurkan untuk bayi, karena bantal yang tidak tepat bisa membuat saluran napas bayi tertekuk dan menghalangi jalan napasnya. Sulit menentukan ketebalan bantal yang pas dan aman untuk bayi. Bentuk belakang kepala bayi yang agak menonjol sebenarnya sudah cukup untuk menjaga agar saluran napasnya tetap lurus dan tidak tertekuk.

Bila menggunakan bantal sebaiknya gunakan bantal yang tipis atau bantal donat (bagian tengahnya bolong) sehingga bisa menjaga posisi kepala bayi agar tidak bergerak kemana-­mana.

 

Selimut yang Bagaimana yang Dianjurkan Untuk Bayi ?

Penggunaan selimut ditentukan oleh keadaan cuaca di lingkungan Anda. Kalau cuacanya dingin, maka pakaikanlah selimut kepada bayi. 

Cara penggunaan selimut yang baik adalah dengan memasukkan tepian selimut ke bawah kasur atau ke bawah tubuh bayi (seperti bedong), agar selimutnya tidak bergerak dan tidak menutupi jalan pernapasan bayi. 

Jaga agar selimut tidak mengikat bayi terlalu ketat, supaya bayi masih bisa menggerakkan badannya, menggunakan bantal sebaiknya gunakan bantal yang tipis atau bantal donat (bagian tengahnya bolong) sehingga bisa menjaga posisi kepala bayi agar tidak bergerak kemana­-mana.




Read More
      edit
Published 04.44.00 by Admin

Bayi Kuning - Penyebab Bayi Kuning Saat Baru Lahir

Normalkah kuning pada bayi baru lahir ? Kapan harus disinar ?

 

Mengapa dokter meminta pemeriksaan bilirubin jika menjumpai bayi kuning ? 

Inilah beberapa pertanyaan yang sering timbul berkenaan bayi kuning.

 

Pelajari fakta-­faktanya! 


[1] Kuning pada bayi baru lahir disebabkan oleh kadar bilirubin (biasanya bilirubin indirek) yang tinggi. 

Akibat hati bayi belum mampu “membuang” bilirubin secara sempurna (saat bayi dala bentuk janin dalam kandungan, organ hati sang ibu yang membuang bilirubin bayi, tetapi setelah melahirkan, maka bayi harus melakukannya sendiri). Kadarnya yang melebihi ambang normal sehingga akan berdampak pada warna kuning pada kulit dan bagian putih (konjugtiva) mata. Kondisi ini disebut juga jaundice atau ikterus. 

[2] Umumnya, kuning terjadi secara berurutan dari kepala sampai ke kaki. 

[3] Sekitar 60% bayi mengalami kuning dan mayoritas dapat dikategorikan wajar/normal. 

Jika terjadi pada usia dua sampai empat belas hari. Kadar tertinggi bilirubin biasanya terjadi pada rentang usia 3-5 hari. Kuning yang tidak wajar/abnormal adalah bila kuning terjadi dalam 24 jam pertama kelahiran bayi, atau menetap sampai lebih dari dua minggu. Kondisi­-kondisi ini membutuhkanpemeriksaan darah untuk mengetahui kadar bilirubin total dan menentukan perlu atau tidaknya penanganan lebih lanjut. 

[4] Kadar bilirubin yang melebihi nilai normal membutuhkan terapi sinar (phototherapy). 

Pada kondisi ini sesuaikan dengan grafik yang dirilis oleh American Academy of Pediatrics. Bila tidak teratasi dengan terapi ini, atau saat pemeriksaan awal kadarnya sangat tinggi, mungkin tidak ditangani dengan terapi sinar atau transfusi tukar sesuai panduan) berisiko menimbulkan kernicterus, yaitu kerusakan otak akibat bilirubin yang menembus melewati sa­ war darah­otak.

Bayi akan mengalami kejang dan berisiko terjadi palsi serebral (keterbelakangan mental dan umumnya terjadi gangguan motorik) dan gangguan penglihatan/pendengaran yang sulit dikembalikan fungsinya. 

[5] Menjemur bayi untuk menghilangkan kuning 

Menjemur bayi untuk menghilankan kuning tidak direkomendasikan karena kadar sinar ultraviolet yang tidak terukur secara pasti dan juga dapat berpotensi kulit bayi akan terbakar sinar matahari.

Gambar di bawah adalah grafik yang dikeluarkan oleh American Academy of Pediatrics. Jika bayi Anda atau bayi kenalan Anda didiagnosis oleh dokter mengalami kuning, diperiksakan bilirubinnya dan disarankan harus mendapatkan terapi sinar, pastikan telah memenuhi kriteria yang ada



Gambar di atas adalah panduan (guide) kapan sebaiknya seorang bayi dengan rentang usia kehamilan ≥ 35 minggu baiknya mendapatkan terapi sinar.

Perhatikan ada tiga garis yang dimuat dalam grafik.

* Garis paling atas (titik-­titik putus) digunakan pada bayi yang terlahir dengan risiko rendah (lower risk), yaitu usia kehamilan ≥ 38 minggu (cukup bulan) dan bayi terlahir dengan sehat. 

* Garis di tengah-­tengah berupa garis­-garis putus digunakan untuk: 
  • bayi dengan risiko sedang (medium risk), yaitu usia kehamilan ≥ 38 minggu dengan faktor risiko seperti asidosis, sepsis/ infeksi berat, atau kadar albumin <3 g/dL) atau 
  • bayi yang terlahir baik dengan usia kehamilan antara minggu ke-35 sanmpai 37

* Garis paling yang bawah yaitu garis lurus utuh dinyatakan untuk bayi yang terlahir dengan usia kehamilan antara minggu ke-35 hingga 37 sehingga akan memiliki faktor risiko yang relatif sama seperti telah disebutkan. Panduan ini mengkhususkan terapi sinar menggunakan fototerapi intensif dengan nilai bilirubin total dalam satuan mg/dL (milligram per desiliter). 

Jika RS tempat bayi Anda dilahirkan menggunakan peralatan fototerapi konvensional (untuk mengetahuinya tanyakan jenisnya pada dokter di RS tempat Anda periksa), maka angka yang ada dikurangi 2­­3 mg/dL Sebagai contoh, misalnya anak Anda saat ini berusia 3 hari (sekitar 72 jam) dan didiagnosa kuning oleh dokter sehingga disarankan dilakukan pemeriksaan kadar bilirubin totalnya dan disarankan untuk mendapatkan terapi sinar.

 

Berapakah sebenarnya kadar bilirubin total yang mengindikasikan bayi harus disinar ? 

Bayi Anda adalah bayi yang terlahir sehat, berusia kehamilan cukup hanya memiliki fototerapi konvensional, maka bayi Anda terindikasi  mendapatkan terapi sinar apabila nilai bilirubinnya 14­16 mg/ dL. 

Jelas kan? Jadi, bila nilai bilirubin total bayi Anda 12 mg/ dL dan dokter meminta bayi Anda disinar, Anda punya alasan untuk menolaknya. Silakan diskusikan dengan dokter Anda. Grafik di bawah menjelaskan nilai yang menunjukkan indikasi bayi harus mendapatkan transfusi tukar. Cara membacanya hampir sama dengan grafik yan sebelumnya. Anda juga bisa mencoba http://bilitool.org yang memudahkan Anda menentukan nilai ini. Silakan membukanya!


Sumber Referensi:

American Academy of Pediatrics Subkomite Hiperbilirubinemia. Pengelolaan hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir bayi 35 minggu atau lebih ofgestation. Pediatrics 2004; 114; 297.
 
Maisels MJ, Bhutani VK, Bogen D, Newman TB, Stark AR, Watchko JF. Hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir bayi ≥ 35 weeks'gestation: update dengan klarifikasi. Pediatrics 2009; 124; 1193.
Read More
      edit

Sabtu, 10 Desember 2016

Published 05.25.00 by Admin

Mpasi - Kapan Sebaiknya Mpasi Diberikan, 6 ,7 atau 8 Bulan ?

Kapan Usia Dimulainya Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI)


Usia Dimulainya Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI)
Image courtesy of Serge Bertasius Photography at FreeDigitalPhotos.net

Usia optimal dimulainya pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) adalah saat bayi berusia 6 bulan. Sebelum tahun 2001, anjuran pemberian MPASI dapat dimulai saat bayi berusia 4 hingga 6 bulan. Seiring berkembangnya penelitian yang membuktikan bahwa pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan memberikan banyak manfaat bagi bayi dan juga ibu,
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan waktu optimal pemberian MPASI adalah saat bayi berusia 6 bulan.

Kesalahan Memberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) Terlalu Dini

Banyak ibu dan ayah (umumnya, bila bayi adalah anak pertama) sangat bersemangat untuk segera memberikan MPASI karena dalam diri mereka ada perasaan bangga dan bahagia telah membuat pencapaian besar. Hal ini dapat memicu orangtua memberikan MPASI terlalu dini.

Selain itu, banyak ibu yang khawatir bayinya kelaparan karena terus-menerus menyusu. Orangtua juga memberikan MPASI dini karena bayi sudah menunjukkan ketertarikan terhadap makanan. Bayi yang rewel juga sering dihubungkan dengan kebutuhan bayi untuk menerima MPASI.

Selain itu, perkembangan bayi berikut ini juga sering dijadikan alasan pemberian MPASI sebelum bayi berusia 6 bulan.
  • Refleks bayi mendorong lidah saat mulut bayi disentuh berkurang sejak bayi berusia 4 bulan.
  • Bayi mulai menunjukkan kemampuan untuk duduk.
  • Bayi menunjukkan keinginan dan kemampuan meraih makanan serta memasukkan ke dalam mulutnya.
  • Bayi mulai tumbuh gigi.
  • Bayi mudah terganggu saat menyusu sehingga ketertarikan bayi untuk menyusu terlihat seperti berkurang.
Padahal, kesiapan bayi untuk menerima MPASI juga tergantung dari kematangan sistem pencernaan dan perkembangan bayi lainnya. Keluarga terdekat dan teman memiliki peran besar dalam menentukan waktu pemberian MPASI dan jenis makanan yang diberikan sebagai menu awal MPASI. Oleh karena itu, edukasi yang tepat kepada anggota keluarga lain dan lingkungan sangat penting, tidak hanya pada ibu dan ayah.

Berikut ini adalah bahaya atau kerugian memberikan MPASI terlalu dini


bahaya atau kerugian memberikan MPASI terlalu dini
Sumber : Key Message Booklet UNICEF 

[1] Bayi lebih rentan terkena berbagai penyakit.

[2] Saat bayi menerima asupan lain selain ASI, imunitas/kekebalan yang diterima bayi akan berkurang.

[3] Pemberian MPASI dini berisiko membuka pintu gerbang masuknya berbagai jenis kuman, apalagi bila MPASI tidak disiapkan secara higienis.

[4] Banyak penelitian menyatakan pemberian ASI eksklusif dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit, seperti penyakit infeksi telinga, penyakit saluran pencernaan, seperti diare dan pernapasan

[5] Berbagai reaksi muncul akibat sistem pencernaan bayi belum siap. 

Bila MPASI diberikan sebelum sistem pencernaan bayi sempurna untuk menerimanya, ada kemungkinan makanan tidak dapat dicerna dengan baik sehingga menimbulkan berbagai reaksi, seperti sembelit/konstipasi, diare, dan perut kembung atau ber-gas.

[6] Tubuh bayi belum memiliki protein pencernaan yang lengkap. 

Berbagai enzim seperti amilase (enzim pencerna karbohidrat) yang diproduksi pankreas belum cukup tersedia ketika bayi belum berusia 6 bulan. Begitu pula dengan enzim pencernaan karbohidrat lainnya (seperti maltase dan sukrase) dan pencerna lemak (lipase dan bile salts ).

[7] Bayi berisiko ceenderung menderita alergi pada makanan. 

Pemberian ASI eksklusif lebih lama menurunkan angka terjadinya alergi makanan. Pada usia 4–6 bulan, kondisi usus bayi masih “terbuka”. Saat itu, antibodi (sIgA) dari ASI masih bekerja melapisi organ pencernaan bayi dan memberikan kekebalan pasif, mengurangi terjadinya penyakit dan reaksi alergi sebelum penutupan usus terjadi. Produksi antibodi dari tubuh bayi sendiri dan penutupan usus terjadi saat bayi berusia 6 bulan.

[8] Bayi berisiko mengalami obesitas/kegemukan. 

Pemberian MPASI dini sering dihubungkan dengan peningkatan berat badan dan kandungan lemak di tubuh anak pada masa datang. Produksi ASI dapat berkurang. Makin banyak makanan padat yang diterima bayi makin tinggi potensi bayi mengurangi permintaan menyusui. Bila ibu tidak mengimitasi frekuensi bayi menyusu dengan memerah, produksi ASI dapat menurun. Bayi yang mengonsumsi makanan padat pada usia yang lebih muda cenderung lebih cepat disapih.

[9]  Persentase keberhasilan pengatur jarak kehamilan alami menurun. 

Pemberian ASI eksklusif cenderung sangat efektif dan alami dalam mencegah kehamilan. Bila MPASI sudah diberikan, bayi tidak lagi menyusu secara eksklusif sehingga persentase keberhasilan metode pengaturan kehamilan alami ini akan menurun.

[10] Bayi berisiko tidak mendapat nutrisi optimal seperti ASI. 

Umumnya bentuk MPASI dini yang diberikan berupa bubur encer/cair yang mudah ditelan bayi. MPASI seperti ini mengenyangkan bayi, tetapi nutrisinya tidak memadai.

[11] Bayi berisiko mengalami invaginasi usus/intususepsi. 

Invaginasi usus/intususepsi adalah keadaan suatu segmen usus masuk ke dalam bagian usus lainnya sehingga menimbulkan berbagai masalah kesehatan serius dan bila tidak segera ditangani dapat menyebabkan kematian. Penyebab pasti penyakit ini belum diketahui, tetapi hipotesis yang paling kuat adalah karena pemberian MPASI yang terlalu cepat.

 

Kapan Mulai Memberikan MPASI bagi Bayi Preterm/Prematur ?

Kapan Mulai Memberikan MPASI bagi Bayi Preterm/Prematur
Image courtesy of Serge Bertasius Photography

Sementara bayi lahir cukup bulan dan sehat menerima MPASI pada usia 6 bulan, bayi-bayi yang dilahirkan preterm/prematur memiliki waktu mulai MPASI yang berbeda. Hal ini disebabkan perkembangan bayi-bayi preterm/prematur dinilai bukan berdasarkan usia kronologis ( Chronological age /CH) atau usia aktual sejak bayi dilahirkan, melainkan berdasarkan usia koreksi ( Corrected age /CA) dan hal ini perlu diketahui oleh ibu dan ayah.

Secara umum, bayi preterm/prematur mulai diberi MPASI saat usia koreksinya (bukan usia kronologisnya) mencapai 6 bulan. 

Untuk menghitung usia koreksi, gunakan rumus berikut.

Usia koreksi = usia kronologis – (40 – usia kehamilan saat dilahirkan)

  • Contoh: Bayi A dilahirkan prematur pada tanggal 19 Maret 2014. Usia kehamilan saat bayi dilahirkan adalah 30 minggu berdasarkan pemeriksaan USG. Pada tanggal 11 Juni 2014, usia kronologis bayi adalah 12 minggu.

Jadi, perhitungan usia koreksi adalah sebagai berikut.

  • Usia koreksi = usia kronologis–(40–usia kehamilan saat dilahirkan) = 12–(40–30)=2. 
Jadi, usia koreksi bayi adalah 2 minggu.
Tidak tepat jika ibu membandingkan perkembangan bayi preterm/prematur yang lahir pada usia kehamilan 30 minggu dengan bayi yang lahir cukup bulan, walaupun usia kronologis kedua bayi saat itu sama-sama berusia 6 bulan.

 

Tanda-Tanda Bayi Preterm/Prematur Siap Menerima MPASI

Dokter anak yang menangani bayi preterm/prematur perlu melakukan penilaian kesiapan bayi secara individual dalam menerima MPASI, bukan hanya berdasarkan usia koreksinya. Berikut ini beberapa tanda bayi preterm/prematur siap menerima MPASI.

#1 Bayi tidak memiliki masalah menyusu.

#2 Dapat duduk dengan dukungan minimal.

#3 Telah memiliki kontrol leher dan kepala yang baik.

#4 Menunjukkan ketertarikan pada makanan.

#5 Bayi dapat mengambil suatu benda dan memasukkannya ke dalam mulut.

#6 Membuat gerakan mengunyah.

#7 Berkurangnya refleks mendorong lidah.

#8 Dapat mengatur dan memberi tanda bila kenyang seperti menarik / menjauhkan kepala dari payudara ibu, menutup mulut ketika ditawarkan menyusu, atau mendorong keluar ASI / PASI (Pengganti ASI) yang telah masuk ke dalam mulut.

Semoga Bermanfaat...
Read More
      edit

Kamis, 08 Desember 2016

Published 23.57.00 by Admin

Manfaat ASI - Meningkatkan Kecerdasan, Mengurangi Risiko Asma, Apa Lagi ?

Manfaat ASI Eksklusif

Apa Saja Manfaat Besar Yang Terkandung Dalam ASI Eksklusif bagi Kesehatan Bayi 


Image courtesy of patrisyu at FreeDigitalPhotos.net

Manfaat ASI Eksklusif - Selain menghadirkan nutrisi terbaik yang dibutuhkan bagi tumbuh kembang bayi, ASI ekslusif juga berperan penting dalam melindungi dan meningkatkan kesehatan bayi. UNICEF menyatakan bahwa ASI menyelamatkan jiwa bayi terutama di negara-negara berkembang. 

Keadaan ekonomi yang sulit, kondisi sanitasi yang buruk, serta air bersih yang sulit didapat menyebabkan pemberian susu formula menjadi penyumbang risiko terbesar terhadap kondisi malnutrisi dan munculnya berbagai penyakit (seperti diare) akibat penyiapan dan pemberian susu formula yang tidak higienis

Laporan WHO juga menyebutkan bahwa hampir 90% kematian balita terjadi di negara berkembang dan lebih dari 40% kematian tersebut disebabkan diare dan infeksi saluran pernapasan akut, yang dapat dicegah dengan pemberian ASI eksklusif.

Berikut ini beberapa fakta manfaat mengenai peran ASI dalam meningkatkan kesehatan bayi.

  • Bayi yang diberi ASI, 17 kali lebih jarang menderita pneumonia/radang paru (Cesar 1999).
  • Bayi yang diberi ASI akan lebih terlindungi dari potensi terserang penyakit sepsis/infeksi dalam darah yang dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ tubuh hingga kematian (Ashraf 1991, Patel 2013).
  • Waktu menyusui yang lebih lama dapat melindungi bayi dan anak dari penyakit asma bahkan mengurangi risiko terjadinya serangan asma pada anak kecil.
  • Risiko menderita asma meningkat bila pemberian ASI eksklusif tidak diberikan sebelum 4 bulan (Kull 2004, Bener 2007). 
  • Menyusui dengan jangka waktu yang lebih panjang (lebih dari 6 bulan) dapat melindungi bayi dan anak dari penyakit rhinitis alergi (Ehlayel 2008). 
  • Risiko dirawatnya bayi yang disusui eksklusif selama 4 bulan karena penyakit saluran pernapasan, 3 kali lebih jarang daripada bayi yang diberikan susu formula (Bachrach 2003). 
  • Bayi yang diberi ASI eksklusif, akan 25X lebih jarang menderita diare fatal/menyebabkan kematian (Huffman 1990). 
  • Persentase bayi dirawat di rumah sakit karena diare dapat dicegah sebesar 53% setiap bulannya denganpemberian ASI eksklusif (Quigley 2007). 
  • Bayi yang selalu diberi ASI selama 6 bulan atau lebih akan lebih jarang menderita kanker (leukemia, limfoma maligna) (Martin 2005, Bener 2001). 
  • Pemberian ASI mengurangi risiko diabetes/kencing manis (Owen 2006). 
  • Bayi yang diberi ASI eksklusif lebih terlindungi dari penyakit infeksi telinga tengah (Sabirov 2009). 
  • Bayi prematur dengan berat lahir sangat rendah atau dibawah rata-rata yang mendapatkan ASI secara eksklusif dapat terhindar dari risiko ROP/ Retinopathy of Prematurity (Manzoni 2013). 
  • Pemberian ASI secara eksklusif selama 3 hingga 5 bulan akan mengurangi risiko obesitas/kegemukan sebesar 35% pada masa datang (usia 5–6 tahun) (Carol 2003). 
  • Pemberian ASI mengurangi risiko bayi kekurangan gizi (Pediatrics 115, 2005). 
  • Pemberian ASI mengurangi risiko terserang penyakit jantung serta pembuluh darah (Owen 2002).
  • Bayi yang selalu diberi susu formula akan didapati konsentrasi kolesterol jahat (kolesterol LDL ) akan lebih tinggi serta kolesterol baik (koleserol HDL) yang lebih rendah. LDL yang tinggi merupakan salah satu faktor risiko pemicu penyakit kardiovaskular (Owen 2002). 
  • Bayi prematur yang menerima ASI memiliki tekanan darah yang lebih rendah 13–16 tahun kemudian dibandingkan bayi yang terlahir secara prematur yang menerima susu formula (Singhal 2001). Memicu Penyakit NEC (infeksi dan peradangan yang dapat mengakibatkan kerusakan usus atau bagian dari usus) yang umum diderita bayi prematur dan sering menyebabkan kematian dapat dicegah dengan pemberian ASI (Gephart 2012). 
  • ASI akan melindungi bayi dari celiac disease/kelainan autoimun ketika penderita mengonsumsi makanan yang memiliki kandungan gluten, akan menyebabkan kerusakan usus halus (Ivarsson 2002, Akobeng 2006). 
  • ASI mengurangi risiko bayi terkena infeksi dari bubuk susu formula yang tercemar (misalnya terhindar dari bakteri E .Sakazakii) (Hunter 2008). 
  • Menyusui mengurangi risiko SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) sebesar 50% (Vennemann 2009). 
  • ASI mencegah kerusakan gigi, misalnya gigi keropos dan kelainan susunan gigi geligi atas dan bawah (maloklusi) yang berhubungan dengan bentuk rongga mulut/rahang (Agarwal 2012, Labbok 1987). 

Adapun Keunggulan ASI lainnya, antara lain: 


Image courtesy of Serge Bertasius Photography at FreeDigitalPhotos.net

ASI yang diberikan akan selalu dalam keadaan bersih dari payudara ibu. ASI yang dapat lansgung diberikan dengan kata lain tersedia kapan pun dan dengan suhu yang tepat. Mudah dicerna dan diserap oleh tubuh bayi. Dapat membantu perkembangan gigi dan rahang bayi karena bayi mengisap ASI dari payudara. Kontak kulit dengan kulit (skin to skin contact ) antara bayi dan ibu saat menyusui menciptakan kedekatan/ikatan, serta perkembangan psikomotorik dan sosial yang lebih baik. 

Manfaat menyusui secara eksklusif dibandingkan dengan yang tidak eksklusif (parsial) diketahui pada 1984 dan terus dilakukan penelitian hingga tahun 2007 (Quigley 2007).

Penelitian yang dipublikasikan bulan April 2007 tersebut menyatakan bayi yang mendapatkan ASI eksklusif lebih dapat terhindar dari perawatan di rumah sakit akibat penyakit diare dan infeksi saluran pernapasan dibandingkan bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif (disusui secara parsial/ mix feeding). 

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi yang mendapatkan asupan ASI juga memiliki kemampuan kognitif serta kecerdasan yang secara umum akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan anak yang tidak mendapatkan ASI. 

Beberapa penelitian tersebut, antara lain: 


Image by Serge Bertasius Photography

# AAP (American Academy of Pediatrics) dalam jurnalnya yang dipublikasikan tahun 1998 memaparkan hasil penelitian mengenai hubungan lama waktu menyusui dengan kemampuan kognitif. Data dikumpulkan sejak anak lahir hingga berusia 18 tahun dengan jumlah sampel lebih dari 1.000 anak. Kesimpulannya adalah menyusui berhubungan dengan peningkatan (walau kecil, dapat terdeteksi) kemampuan kognitif anak dan keberhasilan anak di bidang pendidikan. 

# Richards, et al (2002) di Inggris melakukan penelitian terhadap 1.736 anak. Hasilnya, anak yang diberi ASI menunjukkan pencapaian pendidikan yang lebih tinggi (hasil tidak bergantung pada latar belakang sosial ekonomi). 

# Mortensen EL, et al: JAMA (2002) menyatakan hasil penelitian terhadap 3.253 anak di Denmark: Nilai IQ anak yang disusui kurang dari 1 bulan 5 poin lebih rendah dari anak yang disusui selama 7–9 bulan. Terdapat korelasi antara lama pemberian ASI dengan tingkat IQ. 

# Belfort MB, et al: JAMA (2013) menyatakan hasil penelitian sejak tahun 1999 hingga 2002 dilanjutkan hingga anak berusia 7 tahun: Menyusui dengan jangka waktu yang lebih lama berhubungan dengan hasil tes intelegensia dan kemampuan bahasa yang lebih tinggi. 

Jadi, masihkah Bunda ragu dengan  manfaat ASI khususnya ASI eksklusif  ?


Read More
      edit